Praha

Jauh
Terasing, tak bisa pulang
Revolusi bergulir
Tak mau mengakui
Yang dicinta, yang direla

Kabar kematian sampai di telinga, lengan tak mampu memeluk

Menangis tersedu
Memeluk badan
Surat dikirim tak tahu sampainya

Dan akhirnya rela
Dalam sendiri dan asing

Advertisements

Cerita 3 Babak

1
makanan yang tidak membangkitkan lapar juga minuman yang tidak menghilangkan dahaga
mata yang terus mencari kepuasan batin (atau alibi semata?)
irama jantung berdetak tergopoh-gopoh tak teratur napas tersengal pendek
oh bapak, berikan aku obat itu!

2
bapak bilang, tidak ada obat
lalu keluarlah aku dari ruangannya, melihat antrian masuk
lalu kupergi ke tanah lapang
kubenamkan kepalaku ke dalam tanah
dalam gelap kuberikan jantungku berdetak keras pada siapapun
jantungku bergema, ke seluruh alam raya!

3
dan dalam gelap Tuhan berkata, jadilah
maka gemanya berhenti, digantikan setitik pijar di jauh sana
lalu meledak, dan meluas, meluas hingga akhirnya terdengar gema lagi
dan tangisan bayi yang baru lahir
dan juga aku hingga seribu tahun lagi!

Sudah Perjalanan

Aku menikmati kesendirian
Bagaimana ia mengajakku tengah malam di atas ranjang
Bersama-sama menatap langit-langit kamar hingga kami terlelap
Sambil ia menyanyikan nina bobo yang paling lembut yang pernah kudengar

Aku menikmati kesendirian
Sebagaimana ia mengajakku berjalan di tengah hujan gerimis
Dan mencium aroma tanah dan pepohonan yang basah
Kicau burung gereja yang bertengger di pohon dan tiang listrik
Atau cipratan air karena ada mobil yang lewat
Atau perasaan lega saat melihat turun hujan

Aku menikmati kesendirian
Di antara kafe-kafe dan mal
Juga bioskop dan toko buku
Di antara halaman-halaman buku puisi yang tak kaukenal namanya
Juga lembar akhir setelah membaca buku pengarang favoritmu
Di antara gedung-gedung berpendar cahaya saat malam
Juga terbit tenggelamnya matahari

Aku menikmati kesendirian
Dimana dia datang di mata orang-orang pulang kerja
Di mata pengunjung kedai angkringan
Di mata orang tertidur di perpustakaan
Di matamu yang coklat
Di mata-mata orang yang kau dan aku tak kenal
Di dalam mata dan waktuku sendiri

Aku menikmati kesendirian

Kamu

Hidup(?)

Lelah berlalu lalang menatap matahari

Semua yang sekarat berjuang untuk hidup

Batu karang bergulir mengiris kulit-kulit badan menghujam tajam bekerja mengeluarkan ruh

Dan ada saatnya kita hidup

Dan ada saatnya kita setengah mati menjadi hidup

Anjing hitam berlarian di jalanan menembus mata dan lampu merah

Tergantung akar rotan dan simpul

Berbayang-bayang

Kujalan dengan leher tercekik

Bukankah ini hukuman yang patut?

langit

dengan mata kucari di langit
di awan-awan
di telapak kaki

aku di bianglala melihat kerlip cahaya kota
pasar malam yang ramai
siang hari menyengat kepala

mata kaki mencari di tanah
di antara bau hujan
di atas lantai rumah

jawaban pada akhirnya hanya ada di kepala
di mana-mana
lebih dekat dari urat nadi
lebih dekat dari jiwa

diri sendiri
atau Tuhan?

Pengakuan(?)

Selalu ada kosong di antara kata-kata kita yang tidak kuisi apapun karena tidak ada yang bisa kubicarakan atau memang aku tidak pandai menciptakan percakapan. Bukan dengan kita, tapi dengan yang lain pun tidak jauh berbeda, aku yang biasanya lebih memilih sebagai pendengar.

Atau karena memang bakatku yang baru kusadari sekarang, kesendirian. Tak terlalu lihai dengan orang lain, memilih lebih suka bercakap dengan buku yang baru kupinjam dari perpustakaan kecil di daerah bukan-tengah-kota-tetapi-bukan-pinggiran-juga. Atau berjalan sendirian menjelajah kota ini. Mungkin aku bukan menyukai kesendirian itu sendiri, tapi rasa sendiri karena tidak mengekang dan membuat bebas.

Atau kebohongan pada diriku sendiri. Aku memang bukan pembohong ulung, karena itu aku tahu bila aku berbohong pada diri sendiri. Mungkin semua hal di atas adalah salah satu dari banyak kebohongan yang pernah hinggap di kepalaku lalu pergi setelah aku menenangkan diri sendiri akibat efek samping dari kebohongan itu sendiri.

Bukan rasa sendiri yang mengekangku, mungkin sepi. Kesepian. Kesunyian. Bukan. Berbagai pikiran mulai dari delusional sampai tak mungkin tergapai adalah keinginan-keinginan yang mungkin terpendam dan hanya bisa terungkap dari pikitan delusional itu sendiri karena aku pun tak terlalu memikirkannya. Karena liburan ini bisa saja menjadi umpan memancing semua pikiran yang tak pernah keluar dari otak atau bahkan tak pernah terpikirkan sama sekali.

Sebuah pengakuan dari seorang yang menjadikan dirinya sebagai alat.

-T

Adam

menangis beribu tahun kepalaku tunduk berjalan berlapis kulit di atas gurun pasir, mencari jalan menuju rumah yang dicekal dariku. mencari dia yang bersamaku dan terpisah dariku

kepalaku tertunduk beribu tahun aku menginginkan apa yang belum tentu jadi milikku, berangsur-angsur tak sadar, kupijak dan kuhirup dan kutelan, bagaimana kuinginkannya kembali ke tempat terusirnya aku

bagaimana jika dunia itu hilang? bagaimana jika dunia yang dicari beribu tahun berada di pelupuk mata? bagaimana jika bayangan itu adalah tempat yang sama?

anak cucu cicit keturunanku terkutuk oleh pikiran itu, bagaimana jika kau menginginkan sorga yang membuatmu terusir sementara sorga sudah ada di hadapanmu beribu tahun?

dinding rumah kaca

seperti ada dinding yang membatasi kita, atau jendela kaca tertembus bayangan matahari terbit. jendela kaca searah atau dua arah atau banyak arah: tidak pernah terlalu yakin.

kau ada di dalam rumah kaca, berjalan-jalan melihat obrolan atau sekedar melihat tanaman hijau yang akan dijual. kau mungkin memilih mengunci diri di rumah kaca dan menunggu dirimu yang lain untuk masuk dan terperangkap.

Hawa

Rindu api dengan bara api saat api unggun padam

Awan dengan hujan saat badai petir

Lautan dan karang saat samudera

Aku dan Hawa saat awal mula
Aku dan Hawa saat awal mula

Aku dan Hawa
Sepotong jari dengan telapak tangan

Sepatu dan kaki saat langkah

Asap dan tembakau

Aku dan Hawa saat awal mula
Aku dan Hawa saat awal mula

Aku dan Hawa
Sesaat sebelum Dia menurunkannya

Ke

Bumi

Bersama Adam